Saat aku DIDUDUKKAN oleh ALLAH dalam SUASANA SABAR, aku dibawa untuk dapat memahami bahwa setiap KATA ternyata punya makna INTUITIF yang sangat mencengangkan.
Karena sebelum kata adalah huruf, sebelum huruf adalah suara, sebelum suara adalah daya, sebelum daya adalah gerak, sebelum gerak adalah diam. Dari diamlah bermunculan bibit-bibit kepahaman intuitif yang tak kunjung habis.
Kata: “ALLAH”, adalah sebuah bangunan huruf-huruf yang punya makna INTUITIF terhebat sepanjang masa, setidaknya itulah yang aku alami.
Ya Allah…, lalu aku hanya diam dalam ketercengangan.
Ya Allah…, lalu aku hanya berusaha MENYELARASKAN citra diriku dengan makna INTUITIF dari nama Allah itu tanpa aku memberikan PERLAWANAN sedikitpun.
Bagaiman aku akan bisa melawan SESUATU yang tak terlawan. Dialah Allahku.
Bagaimana aku akan bisa melawan sementara yang ku punya hanyalah semata-mata bentuk pikiran-pikiran, sementara Allahku punya KUN (jadilah) FAYAKUN (maka Jadilah).
Bagaimana aku akan bisa melawan untuk menjadi tidak selaras dengan KUN Allahku yang selalu bergerak maju tanpa henti tak kenal ujung. Karena saat aku berhenti dalam keselarasan dengan KUN Allahku, Kun itu TETAP meneruskan Arah geraknya tanpa diriku, sehingga akupun tertingal dan menjadi tertatih-tatih meniti zaman yang nyaris tak kukenal.
Ternyata KUN itu TIDAK akan pernah berhenti hanya gara-gara karena harus mengakomodasi keikutsertaanku. Kun tidak akan pernah berhenti menunggu peranku. Tidak. KUN akan singgah MENGADA pada diri orang-orang yang selaras dengan KUN itu.
Oooo…, akulah ternyata yang harus meyelaraskan diri dengan KUN Allahku, bukannya KUN Allahku yang harus ikut pikiranku.
YA Allah…, berkehendaklah kepadaku. Lalu akupun menyelaraskan diriku agar bisa mengalir bersama Kehendak Allahku…
Salam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar